Inilah 6 Alasan Film Live Action Attack On Titan Gagal Total

2053764 202102070645250595

Jurumata – Artikel ini akan membahas bagaimana live action Attack on Titan gagal total. Saat ini Attack on Titan atau Shingeki no Kyojin sedang berada dalam puncak popularitas seiring final season-nya yang sudah tayang. Kisah umat manusia melawan Titan kini menjadi manusia melawan manusia dan ceritanya semakin menarik karena mengandung unsur politik, fasisme dan rasisme.

Kesuksesan anime Attack on Titan berawal dari manga karya Hajime Isayama yang terbit pertama kali pada 2009 dan baru dijadikan anime pada 2013. Popularitas yang meningkat dan mendunia membuatnya langsung dijadikan film Live Action pada 2015 dan menariknya bukan Hollywood yang melakukannya melainkan industri film Jepang sendiri.

Sudah menjadi rahasia umum jika sebuah anime dijadikan live action maka cenderung akan gagal walaupun tidak semuanya. Akan tetapi, apa yang terjadi pada Attack on Titan live action tahun 2015 adalah memang sebuah kegagalan dan membuat fans kecewa. Ada beberapa alasan kenapa Attack on Titan bisa gagal. Berikut ulasan singkatnya gan.

Alasan Live Action Attack on Titan Gagal Total

1. Perubahan Pada Eren

kACDIIk9soiCWeRwvW

Yang pertama adalah perubahan pada karakter Eren. Jika di anime Eren adalah seorang anak dengan tekad yang kuat, maka di live action Eren tidak terlalu demikian. Selain itu, hubungannya dengan Mikasa pun tidak seperti di anime di mana Mikasa sangat protektif terhadap Eren. Nah, di film live action hubungan keduanya malah ngadi-ngadi.

2. Perubahan Cerita

Attack on titan gagal total

Yang paling fatal mungkin adalah adanya perubahan cerita yang berbeda dari manganya. Dalam anime, Eren, Mikasa, dan Armin belum menjadi pasukan saat serangan Titan Kolosal sedangkan di live action sudah. Yang paling ceroboh adalah di live action ibunya Eren tidak dimunculkan. Padahal inilah yang menjadi fondasi motivasi Eren yaitu ketika melihat ibunya dimakan oleh Titan dan Eren termotivasi untuk membasmi semua Titan. Inilah momen penting yang harus ditampilkan.

Di live action Eren malah melihat Mikasa yang seakan tewas oleh Titan dan kemudian Eren bertekad untuk mencarinya.

3. Mikasa Juga Berubah

1N9i zD85wSoCqIwH3FJ4EqHjiGBtMjMFjr5tV A7o y37wikqz JxNh4X3vEEnAkH5Vc7WSUJIcphCRhwUYynXkyCriKkgTaMSb w r2XMb5X7VVNolGk3C fvf 4K9bhJdDi34

Dalam anime, Mikasa digambarkan seorang Yandere dan menyayangi Eren dengan sangat protektif dan begitu melindunginya. Sedangkan dalam live action Mikasa malah begitu, dan terkesan “membenci” Eren. Para penggemar Mikasa pasti kecewa berat. “Kok Mikasa-nya jadi gitu sih?

4. Tidak Ada Levi

8rBrTWLlPuXPSi5HROoXnNPBXfQcYZERs67qP3mc4RfxOzbYUP0ON 7b dFewZwwa3UmwfVM8eU4yQWWssznyKA7Gbq HvviLcx6dm2kO OD7GrSGIehlhPy8oKi9pcIZpK7kGGN

Levi adalah karakter terfavorit dalam Attack on Titan. Menghilangkannya pada live action adalah sebuah kecerobohan dan malah digantikan dengan Shikishima yang tak jelas juntrungannya. Ditambah lagi Shikishima ini malah menunjukan kedekatan dan kemesraan dengan Mikasa dan semakin membuat fans geram.

5. Visual Effect yang Kurang

HesG7BlU1hR3gkR8 XghOXghJJevhDurUjQPoqmGvR9E08uzpMnLDMojr6SiFb6De2kP1r UOsVrMAbzopTvuqdsNfK756BoYkPv02x P

Harus diakui jika CGI yang digunakan dalam film ini tidaklah terlalu buruk. Tapi tetap saja ada celanya terutama ketika para karakter bertarung dengan manuver gear. Hal ini sebenarnya harus disadari dari awal jika untuk membuat live action sebesar Attack on Titan dibutuhkan budget raksasa untuk urusan CGI. Selain Hollywood, rasanya sulit untuk membuat yang demikian.

6. Lebih Cocok dibuat Oleh Hollywood

I Am90l4dLbMF3dCLAx5I P0iKgXwq1 ZqkpBaBxhouxTATWA fTdBswguOnaw6ZP Nh38gUq6JcRo0fLcMih7Rb2 MRV5AgKLukDk4c2EoRJXtRp0LTmVrd CFEEND793bq4q4I

Memang, ada kalanya anime Jepang tidak cocok untuk dijadikan live action oleh Hollywood seperti yang sudah terjadi pada Dragon Ball Evolution (2009) dan Death Note (2017). Tapi Attack on Titan sendiri sebenarnya justru dibuatkan live action oleh Jepangnya sendiri. Kenapa? Ya karena karakter dan latar dalam Attack on Titan sendiri memang sangat bernuansa barat. Ini tentu cocok jika Hollywood-lah yang mengadaptasinya. Dengan catatan, pihak studio harus serius mulai dari pemililhan cast, naskah, hingga produksi.

Truth
God's Slaves