Mengenang Album Bintang di Surga, Album Paling Fenomenal Awal 2000an

Bintang di surga

Nostalgia Album Bintang di Surga

Membicarakan tentang industri musik Indonesia di era sekarang ini, rasanya harus sepakat sedang lesu. Memang sih, musik Indonesia saat ini masih tetap hidup tapi jika dibandingkan dengan sekitar dekade 90an hingga 2000an, tentu saja sangat berbeda.

Ketika kaset dan CD masih berjaya dan ketika Spotify dan musik digital belum ada, musik Indonesia justru saat itu sedang berkibar. Saat itu adalah masa keemasan band Indonesia mulai dari Sheilla On 7, Dewa 19, hingga Padi, kala itu mencetak penjualan album yang mengagumkan.

Tapi ada satu hal yang harusnya tidak boleh dilupakan oleh para pecinta musik tanah air, yaitu tentang Peterpan yang pernah mengguncang Indonesia lewat album fenomenalnya, Bintang di Surga.

Ya, album Bintang di Surga adalah album Indonesia terlaris sepanjang masa yang penjualannya mencapai lebih dari tiga juta salinan dan sampai sekarang belum ada yang mampu mengalahkannya.

Sebagaimana yang kita ketahui, jika era awal 2000an merupakan puncak kejayaan musik band Indonesia. Peterpan sendiri berdiri pada 1 September 2000. Tentu saja lebih junior jika dibandingkan dengan yang lainnya, semisal Padi.

Sebelum Bintang di Surga, Peterpan memang sudah terkenal duluan lewat album pertamanya, Taman Langit. Dengan hits andalan Mimpi yang Sempurna. Akan tetapi melalui album keduanya, Ariel dkk benar-benar seolah terbang ke langit.

Bintang di Surga dirilis pada tanggal 26 Juni 2004 dan seketika langsung meledak di pasaran. Single pertamanya, Ada Apa Denganmu, menjadi awal dari “keajaiban” lagu ini.

Album ini berisikan 10 lagu yang semuanya berhasil menjadi hits. Membuat nama Peterpan semakin bersinar dan mengukuhkan Ariel sebagai salah satu musisi papan atas Indonesia.

Selain Ada Apa Denganmu, lagu lainnya yang terkenal adalah Di Atas Normal, Ku Katakan dengan Indah, Khayalan Tingkat Tinggi, Di Belakangku. Hingga lagu Bintang di Surga dengan instrumental magisnya dan merupakan lagu paling saya sukai di album ini. Oh iya, jangan lupakan lagu Mungkin Nanti yang beberapa waktu yang lalu sempat kembali populer karena dialih bahasa ke dalam Bahasa Jepang.

Saya masih ingat, ketika itu saya baru saja lulus SD dan naik ke SMP. Ketika album ini meledak, saya juga masih ingat lagu-lagu ini sering diputar oleh banyak orang, termasuk oleh saya sendiri. Kala itu sekitar akhir 2004 ketika setiap kali saya hendak berangkat sekolah, saya selalu memutar album ini di tape milik kakak saya.

Baca juga artikel 5 Pemutar musik dari masa ke masa

Kemudian ketika di perjalanan sekolah dengan jalan kaki, entah berapa rumah dan pertokoan yang memutar album ini. Ketika sampai sekolah banyak teman-teman saya menyanyikan lagu-lagu di album ini. Begitulah seterusnya ketika saya pulang sekolah dan saya memutar kembali lagu-lagu tersebut di tape milik kakak saya lagi pada sore hari.

Masa-masa itu memang menarik, ketika pembajakan terhadap CD dan kaset sedang tinggi, justru kesadaran masyarakat untuk membeli yang original juga tinggi dan terbukti dengan penjualan album Bintang di Surga yang memecahkan rekor nasional.

Album ini menjadi titik terpenting dalam perjalanan karir Peterpan yang sekarang sudah jadi Noah. Terutama bagi seorang Ariel. Bisa dibilang, sama pentingnya dengan album Bintang Lima milik Dewa 19.

Untuk album-album yang selanjutnya, Peterpan memang tetap menuai kesuksesan, termasuk ketika sudah menjadi Noah. Namun, harus diakui jika Bintang di Surga adalah yang terbaik.Kini enam belas tahun berlalu, album ini masih tetap menjadi album Indonesia terlaris sepanjang masa. Jelas saja demikian, karena album fisik kini semakin terkikis oleh platform digital. Kini mungkin hitung-hitungannya berlomba banyak penonton di Youtube ataupun banyaknya berapa kali diputar di platform digital seperti Spotify atau Apple Music. Ditambah lagi dengan keadaan musik Indonesia saat ini. Para musisi lebih senang merilis single daripada album. Jadilah album Bintang di Surga nyaris mustahil untuk rekornya bisa dikalahkan.

Bintang di surga