Preman Pensiun, Sinetron Komedi Bermutu Tinggi, Seperti The Godfather dengan Kearifan Lokal

preman pensiun

Preman Pensiun, Sinetron Bermutu!

Anggapan sebagian masyarakat Indonesia terhadap sinetron memang buruk dan seperti itulah adanya. Banyak sekali sinetron dengan mutu yang menyedihkan di mana jumlah episode mencapai ribuan, cerita yang entah bagaimana alurnya dan akan berakhir ketika ratingnya mengalami penurunan.

Ketika saya berpikir tentang sinetron terbaik dan paling berkualitas sepanjang sejarah yang terlintas dalam benak saya adalah Si Doel Anak Sekolahan yang dianggap menjadi sinetron Indonesia era 90an yang melegenda yang ditayangkan berulang kali di tv.

Tapi sebenarnya diantara banyak sinetron yang berseliweran di layar kaca pada era sekarang, ada satu lagi sinetron yang punya kualitas mumpuni dan berbeda dengan sinetron lainnya. Yaitu Preman Pensiun.

Seperti yang diketahui Preman Pensiun pertama kali tayang di RCTI pada 2015 silam dengan dibintangi oleh Didi Petet, Epy Kusnandar, Mat Drajat, dll. Sinetron ini digarap oleh Aries Nugraha. Bagi yang belum tahu Aries Nugraha, beliau adalah orang di belakang kesuksesan sitkom legendaris, Bajaj Bajuri di mana Aries Nugraha menjadi sutradara.

Dulu ketika iklan promo Preman Pensiun musim pertama tayang, saya langsung mencibirnya dan langsung menganggap sinetron itu akan sama kacaunya dengan sinetron yang lain. Ketika sudah tayang dan langsung booming, saya juga tidak menontonnya. Teman-teman saya di tempat kerja lalu mendadak menyukai sinetron itu dan membincangkannya. Saya merasa heran kok bisa seheboh itu.

Saya pun penasaran dan mencari tahu isi sinopsis Preman Pensiun dan ternyata sangat menarik. Yaitu kehidupan para preman di Bandung yang dibalut dengan komedi. Belum lagi sinetron ini dibintangi oleh aktor legendaris, Didi Petet yang sayangnya beliau meninggal dunia saat musim kedua masih tayang.

Nah, kenapa Preman Pensiun layak disebut sebagai salah satu sinetron terbaik sepanjang masa? Padahal sinetron ini sekilas terlihat biasa saja? Ada beberapa alasan yang saya akan jelas secara singkat. Oh iya, Preman Pensiun ini bahkan bisa disebut sebagai The Godfather dengan kearifan lokal.

Yang pertama adalah sistem penayangan per musim seperti serial barat atau serial drama Korea. Saat artikel ini ditulis, Preman Pensiun sudah tayang sebanyak empat musim dan episode terakhir musim keempat tayang pada pertengahan tahun 2020. Per musimnya episodenya juga tidak terlalu banyak sehingga tetap menjaga kualitas ceritanya.

Yang kedua tentu saja tema ceritanya yang sangat kuat yaitu kehidupan para preman yang dibalut dengan komedi. Hebatnya, sinetron ini juga menggunakan musik soundtrack buatan sendiri berupa musik instrumen khas Sunda. Intro atau openingnya juga singkat tanpa adanya lagu seperti sinetron lainnya.

Nah, ke pokok pembahasan, Preman Pensiun ini sebenarnya layak disebut sebagai cerita The Godfather dengan kearifan lokal. Kenapa demikian? Seperti yang sudah diketahui The Godfather adalah salah satu film bertemakan gangster atau mafia terbaik sepanjang masa.

Film yang diadaptasi dari novel karya Mario Puzo dan disutradarai oleh Francis Ford Coppola itu dirilis pada 1972 dan mendapatkan banyak penghargaan termasuk Oscar. Ceritanya sendiri tentang keluarga mafia Italia yang menguasai New York dan pemimpinnya adalah Vito Corleone (Marlon Brando).

Keluarga Corleone begitu disegani oleh kelompok mafia lainnya dan nama Vito Corleone begitu tersohor dalam melakukan bisnis ilegal. Dalam film keduanya dikisahkan kalau Vito Corleone muda terpaksa harus pergi ke New York karena kedua orang tuanya terbunuh oleh ketua mafia di kampungnya, Sicilia, Italia. Hidupnya yang pahit dan keras membawa pengembaraannya di New York dan perlahan menguasai gangster jalanan hingga akhirnya membentuk kelompok mafia.

Dalam film pertama Vito Corleone meninggal dan posisinya sebagai leader digantikan oleh anak bungsunya, Michael Corleone (Al Pacino). Gaya kepemimpinan Vito dan Michael jauh berbeda.

Lalu apakah persamaan Preman Pensiun dengan The Godfather? Dalam preman pensiun dikisahkan kalau Kang Bahar (Didi Petet) pada tahun 1970an datang ke Bandung dari Garut dengan tidak membawa apa-apa. Ia melakukan bisnis sederhana dengan berjualan di pasar bersama temannya dan sinilah Kang Bahar meniti karirnya sebagai preman. Perlahan dia menguasai sebagian tempat dan menjadi wilayah kekuasaan.

Nama Kang Bahar diceritakan juga sangat terkenal sebagai ketua preman yang paling ditakuti serta dihormati oleh anak buahnya. Sama seperti Vito Corleone, Kang Bahar juga punya kualitas kepemimpinan yang luar biasa berkarisma. Vito Corleone digambarkan sebagai pria yang sangat menyayangi keluarganya. Pun begitu dengan Kang Bahar, ia mempunyai tiga orang putri dan juga cucu.

Bedanya Kang Bahar memutuskan untuk pensiun dari jalannya sebelum ia meninggal, sementara Don Vito tidak. Kang Bahar mewarisi semua kekuasannya kepada tangan kanannya, Muslihat alias Kang Mus (Epy Kusnandar).

Kang Mus bertanggung jawab atas semua wilayah operasinya berupa meminta “uang keamanan” pada para pedagang dan juga di terminal. Ia juga harus menyelesaikan konflik internal serta mengatur siasat untuk menyingkirkan Jamal, anak buahnya yang ingin balas dendam.

Kepemimpinan Kang Mus jelas tidak seburuk Michael Corleone namun tetap keduanya punya kemiripan yaitu sama-sama tidak lebih baik dari pendahulunya. Michael Corleone membuat kekacauan karena leadership yang buruk dan putrinya tewas terbunuh.

Sementara itu Kang Mus gagal sebagai pemimpin. Ya, ini terjadi saat Preman Pensiun the Movie di mana anak-anak buahnya terlibat konflik yang membuat salah satunya terbunuh dan salah satunya lagi dipenjara.

Memang, membandingkan kedua cerita ini memang kurang bijak karena Preman Pensiun sendiri adalah sinetron komedi yang berlatar di tanah Sunda. Namun jika diperhatikan lebih dalam lagi sesungguhnya Preman Pensiun mempunyai cerita yang berbobot.