Lomba Calistung Saat Kecil Sudah Besar Lomba Kawin

Lomba calistung dan kawin

Lomba Calistung Jadi Lomba Kawin

Masih ingat sekali ketika zaman SD dulu, bersaing dengan teman sekelas untuk bisa ikutan perlombaan Baca Tulis Hitung (Calistung). Walau hadiahnya bukan barang mewah uang jutaan rupiah atau apapun lah, hanya seperangkat alat tulis seperti buku tipis Sidu bergambarkan Samurai X, serta pensil dan pulpen yang satu sampai dua haripun juga hilang oleh para sindikat di kelas.

Tapi yah, entah kenapa kami dulu sangat antusias dalam perlombaan Calistung tersebut, baik ketika masih dalam waktu belajar di kelas maupun sedang di luar kelas banyak teman-teman kelas sibuk latihan agar lolos seleksi, bahkan beberapa teman dekat saya termasuk saya masih belajar ketika sudah pulang di rumah. Hingga saat proses seleksi tiba, saya masih ingat betul di hari rabu itu, semua teman rival saya melihat saya dengan mata tajam, seolah saya tidak diharapkan datang ke sekolah.

Setelah Bu Euis (Guru kelas yang namanya sulit terlupakan) itu melakukan proses seleksi kepada seluruh kontestan muridnya, kami semua di tes mulai dari membaca cepat, tepat dan tentunya dengan pengucapan ejaan kata yang harus benar, dan untuk lolos tes tersebut, Bu Euis membuat target, dalam satu menit harus sampai 200 kata tanpa melakukan kesalahan pengucapan.

Setelah tes membaca selesai, lanjut dengan tes berhitung, jika masalah hitung berhitung, saya sendiri sudah terkenal juara bertahan dalam matematika, jadi di tes kali ini saya tidak begitu gugup atau khawatir tidak lolos seleksi. Dan benar saja, semua soal yang Bu Euis berikan sama lumat habis sementara teman saingan saya masih mengerjakan soal-soalnya.

Tes terakhir, tes menulis yang jujur saja saya paling berat di tes ini, karena tulisan saya tidak terlalu bagus bahkan bisa dikatakan seperti akar toge. Meski dengan rasa gelisah dan semi putus asa, saya tetap melanjutkan proses tes terakhir itu.

Tibalah pengumuman siapakah siswa yang layak untuk mengikuti perlombaan Calistung antar Sekolah Dasar tahun itu. Semua wajah teman di kelas tegang (walau ga semua siswa juga sih, ada beberapa siswa yang ga peduli sama sekali terhadap perlombaan ini) pastilah selalu ada siswa tipe seperti itu yang hanya nebeng hadir di kelas hobinya nyontek, sudahlah saya tidak ingin gibah juga. Yang pada intinya saya terpilih untuk ikut dalam perlombaan Calistung se Kabupaten itu.

Meski Bu Euis bilang tulisan saya jelek dan harus diperbaiki lagi, tapi dia bilang sayalah satu-satunya murid yang mampu membaca lebih dari 200 kata dengan cepat dan benar, juga berhitung dengan cepat dan benar. Sepertinya saya hoki saat itu, hanya saya yang beneran lolos proses seleksi, padahal teman-teman kelas mayoritas pintar-pintar, mungkin karena gugup mereka jadi ngelantur jawab soal-soalnya.

Besoknya Bu Euis dan saya berangkat ke Sekolah Dasar “Haur Panggung 1”, karena di sekolah itu tempat diadakannya perlombaan, sebelum perlombaan dimulai, saya tidak menyangka saja, kandidat perwakilan perlombaan itu di dominasi oleh perempuan, laki-laki hanya 6 sampai 7 orang. Lomba dimulai, lembaran demi lembaran soal dibagikan, hingga lembaran soal terakhir yang isinya cukup sulit juga.

Bell tanda waktu habis pun berbunyi, dan beberapa jam kemudian di umumkan peringkat juara lomba Calistung tahun itu. Peringkat 1 sampai 5 diumumkan, dan tidak ada nama saya terdengar, saya sedikit kecewa dan merasa malu, karena saya dekat dengan Bu Euis maka saya langsung saja meminta maaf karena gagal juara, tapi dia dengan lembut bilang “tidak apa-apa, kamu sudah masuk sepuluh besar, kamu di peringkat 6”.

15 tahun berlalu, dan saya diundang datang ke reuni akbar Sekolah Dasar dimana dulu saya sering ikut perlombaan Calistung. Hampir semua teman sekolah sudah bawa pasangan dan anaknya masing-masing, sedangkan saya yang masih belum menikah sudah tentu menjadi bahan ledekan mereka.

Ada yang bilang sindir secara halus bahkan sindiran extreme seperti “Eh, ga capek apa keluarin terus pake tangan?”, semua orang tertawa, termasuk pasangan mereka. Kenapa sih dengan menikah? Apa ada perlombaan kawin? Atau kawin itu sesuatu hal yang harus dilombakan?. Sepertinya tidak ada tuh lomba Kawin, tapi kenapa semua orang menganggap pernikahan itu kompetisi?

Bukan saya tidak mau kawin, tentu saja mau, siapa sih yang ga mau kawin? Hanya saja menurut saya pernikahan itu hal yang ga bisa dianggap enteng, maka harus berhati-hati dalam memilih calon pasangan, lalu pola pikir yang matang, karena kata orang bijak pun “Mencukupi mulut isteri yang atas dan bawah itu bukan hal sulit, tapi mendidik dan membina isteri dan anak anak itu bukan hal mudah”.

Maka dari itu, saya tidak ingin tergesa-gesa dalam hal Kawin. Tapi tetap saja, tidak hanya teman reuni, mulai dari rekan kerja, teman dekat sampai keluarga ketika membahas kawin, selalu melesatkan pertanyaan-pertanyaan “Kapan kawin?” yang agak ganggu ditelinga. Padahal saya yakin setelah menikah nanti, pasti mereka meng upgrade pertanyaannya jadi “Kapan nih ada Dedek Bayi?” Masa kalah sama sodara kamu, anaknya aja udah 2.

Ya mungkin itu sudah menjadi sistem hukum alam, yang dimana jika kalian sudah berumur dan masih saja single, akan muncul sindiran dan pertanyaan yang males banget jawabnya.